Friday, May 19, 2017

M e n u n g g u ...


By : Dianti & Anggie


"Selamat atas kamu dengan nya"


Aku berharap kamu merindu ku
dengan sangat pahit
hingga mau mati rasanya.
.
.
.
.
.
Dan yang kuharap darimu
semoga kuat menunggu,
yang jelas jelas juga sedang menunggumu
dipenghujung waktu,
.
.
.
.

Berharap Dia mampu
mengkokohkan benda yang bernama HATI ini
Agar mampu kelak
menunggu hingga di persimpangan waktu

Terima kasih penyemangatan dari mu,
Teman ;)

Gadisastra_
#SajakGadisastra

Monday, February 27, 2017

Setitik Embun Untukmu




Apa kau menunggunya ?

Apa kau tetap menanti saat terjaga malam mu ?

Apa kau tetap melihat layar ponselmu tengah malam tadi ?
Atau
Kau malah tak mengharap apa pun.

Kau tak menuntut apa pun.

Kau bahkan tak ingin terganggu dalam kenyenyakkan tidur mu itu.

Kau tau,
Malamku tadi sungguh tak pulas.
Merasa resah dialam mimpiku.

Aku tidur, mataku tertutup namun seakan hatiku terbangun, pergi menyusuri jalan setapak mimpiku sendiri. "Selamat ulang tahun" tulisku diatas layar ponselku.
Kuhapus lagi, saat hendak mengirimnya.
Kau tau mengapa ?
Aku takut, bahwa malammu tadi bukan menanti sebaris kata dariku melainkan dari wanita lain.
Dan aku benci bila tau wanita lain itu "bukan diriku"

Aku lupa, aku lupa, memang kebiasaan ku untuk tak tertinggal lupa itu.
Aku memang wanita pelupa, katamu waktu itu.

Lupaku adalah akan ingat nya hari ini.
Sebaris kata

Dari :  setitik embun untuk sahabat.

Pekanbaru
14~okto
00:00


Mutiara Di Istana Desa


Deretan kursi yang sejajar seperti deret Aritmatika.
Layar putih lebar dihadapku laksana persegi panjang.

Bahkan...
Aku seakan berada dalam kotak bangun ruang dengan 4 sudut sama besar.

Guruku... Bukankah semua isi istana ini adalah bahan ajar mu ?
Mulai Dari satu di tambah satu hingga sampai di rumus phytagoras.

Guruku....
Betapa bertumpuk ilmu disetiap senti langkah Ku
Begitu terbuka fikiranku sejak menahun di Istana desa mu.

Seakan ku abaikan istana mu yang jauh dari keramaian semut kota
Aku tak peduli !!!
Aku percaya  kilau mutiara mu kan melahirkan bintang pengenggam dunia.

Pekanbaru
17~sept
13:09


Senyuman Mu


Terkadang yang terlalu sering datang, lambat laun ia terkenang.

Terkenang di dalam bingkisan kecil namun mungil itu.
Tenang memaku diri yang kembali mencoba merauk isi dalamnya.








 Tunggu.....
Ku pangku senyuman tipis namun indah didalamnya, berbalut luka.
Menepi. !!!
Sebab, masih ada sisa kaca bekas yang sempat hancur didalam.











 Tak mau luka itu datang untuk tamu yang datang, maka berhati-hati lah ku bilang
Kembali ku pada senyumanmu.
Ku perhatikan dalam diam, ku amati dalam hati, dan ku beri arti.






Setelahnya....
Ku taruh senyumannya di dalam bingkis kecil namun mungil itu.  Sesegera ku ikat simpul ingatan itu rapat .
.
.
.
.
.
.



 Kau tau, aku lebih suka memanggil nya " Bingkis Mungil".


Senyumannya
yang dari dulu......


Pekanbaru
07~sept
22:13



#Dianti Wahyu Sahsinta

Kesendirian mu Melati





Dan malam ini,
semut-semut kota telah kembali dari petualangannya.
Setelah penat, mereka rehat sejenak untuk kembali lagi esok.









 Tapi tidak denganku kali ini.
Sungguh aku berdialog pada diri sendiri.
Tentang Hidup Tentang Kematian Mereka berdua memang saling bertentangan, bukan ?
Fikiranku bermertamorfosis menjadi ketakutan pada tiap amalanku.
Adalah ketidaktahuanku akan hal itu.








Melati, kali ini bukan rindu masalahnya
Namun kepastian yang sebenar pastilah yang kupermasalahkan.
Kata mereka " kematian itu dekat, ibarat waktu adzan dan iqomah"








"Melati, sudah kah siap Bekal mu untuk-Nya ?"
Sekelebat angin pun berlalu diguyur kegelapan,
Sampai jumpa pemilik hati.......










Sudah Siapkah Bekalmu ?





Pekanbaru 22~agust 22:09


By : Dianti Wahyu Sahsinta

Pahlawan TANPA "Tanda Jasa"


Guru....




Aku ingin menyederhanakan fikiranku dalam mendefinisi arti mu.
Agar tak terlalu rumit saat mempresentasikan makna sosok pejuang revolusi.





Sudah terlalu biasa mata ini membaca, mendengar Dan melihat kata aksara yang selalu sama.

Kali ini sosok mu akan ku torehkan dalam puisiku se-seluarbiasa mungkin.
Aku ingin semua mendengar kata sederhana ku sahaja.





Pejuang Revolusi....
Boleh kah aku bertanya ?
Masihkah lapang hatimu ?
Masihkah rendah hatimu
Bagaimana dengan sabar dan ikhlasmu saat ini ?

Bagiku, engkau begitu kuat mengayomi beratus bahkan beribu-ribu anak didikmu dengan beribu karakter yang baru.









Menerima sampai pada akhirnya engkau wajib melepas kami pergi meraih bintang di langit tinggi.

Silir berganti, kami datang Dan selepas itu  pergi, namun satu hal yang harus engkau tahu tak akan
Ada dalam sejarah "Mantan Guru"











Pejuang Revolusi .....
Teruslah berkarya untuk generasi nusantara, sebab guru mulia Karena karya






Pekanbaru 27~feb
Pukul : 13:23 WIB


By Dianti ;)